Indahnya Ekowisata di Desa Sulangai Bali, Makin Asyik dengan Keluarga

Helga Christina

Helga Christina

On Indonesia
Belajar menanam padi di Sulangai Belajar menanam padi di Sulangai

Coba tawarkan sisi lain keindahan Bali, destinasi berkonsep desa wisata belakangan tengah populer di Pulau Dewata. Banyak kegiatan seru ditawarkan, mulai dari melihat kehidupan masyarakat, hingga terlibat langsung dalam aktivitas keseharian mereka. Salah satu desa wisata yang bisa Teman Traveler kunjungi di Bali adalah Desa Sulangai.

Mungkin banyak di antara kalian yang asing dengan wisata Bali satu ini, padahal pesona keindahannya benar-benar apik lho. Yuk, simak pengalaman saya berikut ini.

Berada di Kawasan Badung

Masyarakat sekitar sedang bersembahyang (c) Helga Christina/Travelingyuk

Desa Sulangai masuk dalam wilayah Kabupaten Badung. Jika Teman Traveler berangkat dari Bandara I Gusti Ngurah Rai, butuh dua jam perjalanan sebelum bisa sampai sini. Desa wisata ini juga dikenal sebagai salah satu penghasil kunyit terbesar di Pulau Dewata.

Desa ini menjadi tempat berdirinya Pura Kancing Gumi. Menurut mitologi Hindhu yang dipercaya di Bali, pura tersebut merupakan penjaga kestabilan Pulau Dewata. Tak heran jika cukup banyak wisatawan berkunjung ke sini karena tertarik mempelajari sejarah Bali kuno lebih dalam.

Belajar Menanam Kunyit dan Padi

Kesibukan petani lokal (c) Helga Christina/Travelingyuk

Selama berada di sini, saya menikmati sejumlah kegiatan ekowisata seru. Pertama-tama, saya ambil bagian dalam proses menanam dan memanen kunyit bersama para petani lokal. Semua diajarkan dengan seksama, mulai dari cara panen, membersihkan, hingga akhirnya kunyit siap dijual.

Berpose bersama petani lokal (c) Helga Christina/Travelingyuk

Tak perlu sungkan bertanya Teman Traveler. Para petani bakal dengan ramah menjelaskan proses memanen kunyit secara lengkap. Kalian juga bisa membeli kunyit segar di sini.

Praktek menanam padi (c) Helga Christina/Travelingyuk

Aktivitas ekowisata berikutnya dilanjutkan dengan trekking menyusuri desa hingga sampai di suatu areal persawahan. Di sini rombongan saya diajarkan praktek bercocok tanam. Dengan sigap para petani mengajarkan langkah-langkah menanam padi, yang ternyata tidak semudah kelihatannya.

Secara tidak langsung Teman Traveler juga diajak untuk lebih menghargai nasi. Bahan pangan pokok yang biasa kita santap sehari-hari tersebut ternyata harus melalui proses panjang melelahkan, sebelum bisa dinikmati di atas meja.

Gebuk Bantal

Perang Bantal (c) Helga Christina/Travelingyuk

Berikutnya, rombongan saya diajak mengikuti permainan gebuk bantal. Permainan ala desa ini sangat menarik. Dua orang peserta duduk di atas bambu panjang. Masing-masing dibekali bantal untuk memukul lawan dan lantas berlomba-lomba menjatuhkan satu sama lain.

Tak perlu takut kotor karena Teman Traveler bisa langsung membilas diri di sungai jernih yang ada di sekitar sawah. Kalian juga bisa berendam sejenak sembari menikmati suasana sekitar.

Tangkap Ikan Hingga Jelajah Air Terjun

Santai sambil minum kelapa (c) Helga Christina/Travelingyuk

Setelah puas bermain Gebuk Bantal, kegiatan berikutnya adalah menangkap ikan langsung dari dalam kolam. Bukan hal mudah karena ikan-ikan tersebut berada di dalam kolam berlumpur dan sangat licin. Kami juga sempat menikmati kelapa muda yang langsung dipetik dari pohonnya. 

Rombongan saya juga diajak melakukan trekking sekitar 30 menit melintasi kawasan sawah dan perkebunan. Banyak hal menarik ditemukan selama perjalanan, mulai dari kebun cabe, kopi, sayur, serta kandang sapi. Petualangan kami akhirnya berujung di Air Terjun Gong, setelah sempat melewati medan terjal dan lumayan curam.

Nama ‘Gong’ diberikan bukan tanpa alasan. Menurut penduduk sekitar, dari kejauhan suara air terjun ini mirip dentuman gong. Sayangnya meski cukup indah, tidak banyak wisatawan mengetahui keberadaan tempat ini. Saat kami berkunjung ke sana, suasananya relatif sepi dan sangat asri.

Itulah sedikit cerita soal petualangan saya di Desa Wisata Sulangai. Bagaimana Teman Traveler, siap mencoba liburan ke sini suatu saat nanti?