Desa Lingga, Jejak Peninggalan Unik Budaya Karo

Wisata tak melulu harus berjalan-jalan santai di pesisir pantai atau berpeluh mendaki gunung. Kadang sobat traveler juga perlu merasakan nikmatnya menjelajah lokasi bersejarah dengan warisan budaya penting. Jika kebetulan sedang berada di Sumatra Utara, hal itu bisa dilakukan di Desa Lingga.

Desa Lingga merupakan bagian dari Kabupaten Karo. Jaraknya kurang lebih 15 kilometer dari Brastagi. Sobat traveler bisa mencapainya via kendaraan umum maupun pribadi.

Jejak Peninggalan Budaya Karo

Rumah adat karo
Rumah adat karo via Instagram kalak_karo

Desa Lingga berdiri sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Hawanya lumayan sejuk, takkan membuat sobat traveler mudah lelah. Ditambah lagi pemandangan di sekitar desa cukup memanjakan mata.

Beberapa rumah adat di sini dirawat dengan begitu baik lewat kerja sama pemerintah dan pengelola kawasan setempat. Wisatawan pun masih bisa menikmati indahnya arsitektur asli rumah Batak Karo hingga sekarang. Menurut beberapa sumber, rumah adat di kawasan Lingga sebenarnya ada cukup banyak namun tak sedikit hancur karena warga setempat kurang bantuan dana untuk perbaikan.

Mengandung Makna Filosofis

Rumah adat mengandung makna filosofis
Rumah adat mengandung makna filosofis via Instagram kennedi_sembiring

Rumah adat Batak Karo di Desa Lingga diperkirakan sudah berusia lebih dari 250 tahun. Bangunan yang tersisa masih kokoh berdiri hingga sekarang berkat bantuan dana World Monument Fund, lembaga Internasional yang fokus pada pelestarian situs kebudayaan. Sekitar kawasan Lingga kini juga ditetapkan sebagai Desa Budaya.

Seperti kebanyakan rumah adat di Indonesia, rumah tradisional di Desa Lingga juga memiliki makna filosofis. Contohnya saja Rumah Si Waluh Jabu, yang memiliki dua pintu berukuran kecil. Setiap tamu yang masuk wajib menunduk sebagai tanda penghormatan untuk pemilik rumah.

Hampir setiap rumah adat Karo memiliki hiasan berupa tanduk atau kepala kerbau di bagian atap. Menurut penuturan warga sekitar, asesoris tersebut berguna untuk menolak bala. Hiasan tanduk ini biasanya diletakkan di atas ayo-ayo, anyaman bambu berbentuk segitiga.

Mengenang Masa Kejayaan Para Raja

Pemandangan dari atas bukit
Pemandangan dari atas bukit via Instagram visit_karo

Tak jauh dari Desa Lingga terdapat Uruk, sebutan untuk makam raja-raja yang pernah berkuasa di wilayah ini lebih dari seabad lalu. Sobat traveler yang ingin berkunjung ke sini wajib menyiapkan tenaga ekstra. Perjalanan menempuh jarak sekitar 1,5 kilometer dan letak makam berada di puncak bukit.

Pengunjung berfoto di depan Uruk
Pengunjung berfoto di depan Uruk via Instagram hendrakaban

Begitu sampai di sana, para pelancong akan disambut sebuah tugu dilapisi keramik warna putih. Tugu tersebut merupakan penanda lokasi Uruk. Menurut sejumlah informasi yang beredar, di sinilah jasad raja-raja masa lalu disemayamkan. Salah satunya adalah Raja Desa Lingga bernama Kelelong Sinulingga yang berkuasa antara 1934-1947.

Meresapi Kehidupan Masyarakat Lokal

Anak-anak di Desa Lingga
Anak-anak di Desa Lingga via Instagram kalak_karo

Selain mengagumi warisan budaya dan sejarah Desa Lingga, sobat traveler juga bisa mencoba meresapi syahdunya kehidupan warga sekitar. Dari atas bukit, para pelancong akan disuguhkan panorama alam yang begitu menawan. Dalam perjalanan turun, sempatkan diri untuk mampir ke kebun sayur penduduk dan berinteraksi dengan orang-orang di sana.

Penduduk sekitar Desa Lingga sering menggunakan Gereta Lembu alias pedati yang digerakkan sapi, untuk berangkat ke ladang. Pengunjung bisa mencoba naik kendaraan unik ini jika ingin merasakan sensasi liburan berbeda.

Itulah tadi sedikit gambaran mengenai keindahan dan pesona Desa Lingga. Bagi sobat traveler yang tertarik menyelami kekayaan budaya suku Batak Karo di Sumatra Utara, tak ada salahnya menyempatkan diri berkunjung ke sana di musim liburan kali ini.

Tags
Sumatra Utara Wisata
Share