Kisah Depot HTS Malang, Jadi Favorit Belanda Sejak 1927

Depot Han Tjwan Sing atau lebih dikenal dengan Depot HTS Malang, sering jadi tempat perhentian wisatawan yang melakukan perjalanan dari Surabaya ke Kota Bunga. Pengunjung biasanya sekedar ingin istirahat sambil mencicipi camilan kue atau menu masakan menggoda.

Depot HTS kuliner legendaris
Depot HTS (c) Dyah Kusuma Susanti/Travelingyuk

Berdiri sejak 1927, bagaimana kisah di balik kuliner legendaris yang masih bertahan sampai sekarang ini? Mari simak ulasannya berikut ini.  

Jadi Favorit Orang Belanda

Depot HTS
Lukisan pensil Bapak Han Tjwan Sing, dilukis tetangganya yang bisu tuli (c) Dyah Kusuma Susanti/Travelingyuk

Bapak Han Tjwan Sing, perintis Depot HTS, mulanya bekerja sebagai pegawai di Pasuruan. Setelah berhenti dari pekerjaannya, bersama Sang Istri ia memulai usaha berjualan jamu dan kue di rumah.

Usaha sederhana tersebut lantas semakin berkembang. Selain berjualan onde-onde, mereka juga mulai menjajakan beragam kue lain. Han Tjwan Sing juga lantas membuka lapak di depan Pasar Lawang. 

Onde-onde Han Tjwan Sing cukup terkenal kala itu. Kabar mengenai kelezatannya sudah tersebar ke mana-mana. Mereka pun memiliki lumayan banyak pelanggan, termasuk dari orang-orang Belanda.  

Depot HTS
Ibu Janny dan kontributor TravelingYuk (c) Dyah Kusuma Susanti/Travelingyuk

Han Tjwan Sing lantas meninggal di usia 76 tahun. Ia memiliki seorang putri bernama Dora Ira Wahyuni. Semasa kecil, Dora sering membantu kedua orang tuanya membuat kue.

Dora lantas melanjutkan usaha ayahnya sejak 1970. Ia konsisten berjualan onde-onde dan kue lainnya. Uniknya, teman-teman Dora yang berkebangsaan Belanda pasti menyempatkan mampir ke Depot HTS jika sedang berada di Indonesia. Mereka ingin melepas kangen dengan menyantap onde-onde, demikian ungkap Janny, putri Dora.

Berpindah Lokasi

Depot HTS legendaris 1927
Halaman parkir Depot HTS (c) Dyah Kusuma Susanti/Travelingyuk

Onde-onde Depot HTS juga kerap dibeli oleh penjual kue yang menawarkannya ke penumpang bis di Pasar Lawang. Perlahan tapi pasti, nama HTS makin dikenal banyak orang dan mulai jadi salah satu kuliner legendaris.

Memasuki tahun 1988, Dora memutuskan untuk memindah lokasi Depot HTS ke Jalan Dr Wahidin 123, Lawang. Lokasi inilah yang terus ditempati hingga sekarang.

Depot HTS onde onde
Depot HTS tanpa pendingin ruangan (c) Dyah Kusuma Susanti/Travelingyuk

Tempat baru tersebut terdiri dari tiga lantai, dilengkapi area parkir luas, mushola, dan toilet. Lantai bawah khusus digunakan untuk depot. Sengaja didesain dengan banyak ruang terbuka agar sirkulasi udara lancar. Meski tanpa kipas angin ataupun pendingin udara, terasa sangat sejuk. Bahkan sekitar Juli hawanya bisa lebih dingin lagi.

Sajikan Beragam Menu Menarik

Depot HTS kuliner
Menu HTS tidak mencantumkan harga (c) Dyah Kusuma Susanti/Travelingyuk

Depot HTS kini sudah masuk generasi ketiga. Dikelola oleh Janny dan adiknya, Lenny. Dibandingkan dengan awal berdirinya, HTS kini makin berkembang dengan tambahan sederet menu makanan khas yang punya keunikan masing-masing.

Pengunjung bisa menjajal sajian seperti nasi rawon merah, rawon hitam, garang asem, tim kambing obat, sop merah, sop sapi, iga masak pedas, kerengsengan, tahu telur, sop lutut sapi, lontong cap go meh, dan masih banyak lagi.  

Depot HTS 1927
Es Kelapa Kopyor (c) Dyah Kusuma Susanti/Travelingyuk

Menu minuman di sini juga bervariasi, dari panas hingga dingin. Selain es kelapa kopyor, masih ada es dawet, blewah, beras kencur, dan wedang jahe. Pengunjung juga bisa memesan beraneka jenis jus.   

Rawon merah depot hts
Kue-kue di Depot HTS (sumber: pribadi)

HTS juga menyediakan beragam varian camilan dan kue. Tak hanya onde-onde, kini pengunjung juga bisa mencicipi pastel, risol, kroket, lemper, dan pisang goreng yang tak kalah lezat. Semuanya diproduksi sendiri oleh keponakan Janny.

Kelezatan Berkualitas Tinggi

Menikmati sajian makanan di HTS (c) Dyah Kusuma Susanti/Travelingyuk

Proses pembuatan semua masakan di Depot HTS berada di bawah komando langsung Lenny. Ia ikut meramu bumbu masakan dengan dibantu para karyawan. 

Kualitas rasa semua masakan benar-benar dijaga dan diawasa ketat. Bahan masakannya dipilih yang bermutu tinggi. Potongan daging dan sayurnya menerapkan standar khusus, hingga semua ukurannya terlihat seragam. Penampilan masakan ketika disajikan di hadapan pelanggan jadi terlihat lebih menarik.  

Rawon merah depot hts
Nasi rawon merah (c) Dyah Kusuma Susanti/Travelingyuk

Malam itu kami memesan nasi rawon merah dan es kelapa kopyor. Tidak seperti rawon umumnya yang berwarna hitam, rawon merah yang jadi andalan HTS ini dimasak tanpa kluwek.

Kuahnya sarat bumbu rempah. Rasanya gurih, dengan potongan daging besar dan empuk. Seporsi rawon merah disajikan bersama tempe, tauge, dan sambal terasi. Sajian lezat ini terasa begitu pas menemani malam yang kala itu tengah mendung.  

Onde onde depot hts
Onde-onde Depot HTS (sumber: pribadi)

Sebagai cemilan kami memesan onde-onde kacang hijau dan kacang merah. Semunya terasa empuk dan lembut ketika dikunyah. Rasanya juga sangat nikmat. Tak heran jika onde-onde ini membuat HTS begitu kondang sejak 1927 hingga sekarang.

Sediakan Pusat Oleh-oleh

Depot HTS Lawang Malang
Oleh oleh di HTS (c) Dyah Kusuma Susanti/Travelingyuk

Selain beraneka ragam kue, makanan, dan minuman, HTS juga menyediakan pusat oleh-oleh. Pengunjung bisa memilih beragam buah tangan menarik untuk dibawa pulang, meski menurut Janny variannya lebih sedikit dibanding depot lain.

depot HTS
Sudut piranti wadah plastik (c) Dyah Kusuma Susanti/Travelingyuk

Pusat oleh-oleh ini tentu bakal memudahkan pengunjung dalam mencari buah tangan untuk teman atau keluarga. Selain kue-kue kering, bumbu pecel, bawang goreng, dan minuman kemasan, HTS juga menjual tas kerajian dari roten serta cobek batu.

Berbagi dengan Sesama

Di tengah kesuksesan, Depot HTS tak lupa berbagi dengan sesama. Alih-alih dibuang, kue-kue lezat yang tak sempat ditebus pelanggan biasanya dibagikan ke gereja dan panti asuhan di sekitar depot. Beberapa di antaranya adalah Mutiara Bunda, Griya Asih, dan masih banyak lagi.

Prinsip berbagi tersebut juga diterapkan dalam proses rekrutmen karyawan. Saat ini HTS memiliki sekitar 25 pegawai. Biasanya mereka diajak oleh karyawan lama atau merupakan anak dari pegawai sebelumnya. Uniknya, mereka yang datang melamar biasanya hampir pasti diterima. Sang Pemilik mengaku merasa kasihan, lantaran banyak yang berasal dari desa.

Menurut Janny, dengan berbagai kita akan mendapatkan keberkahan dari Tuhan. Dirinya juga menerapkan sistem kekeluargaan, hingga terjalin hubungan baik dan menguntungkan antara pemilik dan karyawan.

Jelang pulang malam itu, HTS diguyur hujan. Tapi kami justru mendapat rezeki berupa oleh-oleh lemper, risol, kroket, dan pastinya onde-onde. Wah, senangnya kami malam itu.

Yuk, bagi yang belum pernah ke HTS coba deh mampir. Teman Traveler bakal terpukau sajian kuliner yang sudah melegenda ini. Dijamin puas dan menyenangkan.              

Tags
kontributor kuliner malang Malang Travelingyuk
Share