Jadi Anak Gaul Peduli Sejarah, Yuk Menelusuri Jejak Belanda di Museum Benteng Vredeburg

Gallant Tsany A

Gallant Tsany A

On Indonesia
Museum Benteng Vredeburg Museum Benteng Vredeburg

Teman Traveler tentu sudah memahami bagaimana Belanda sempat menjajah Nusantara selama ratusan tahun. Tak heran jika jejak-jejak sejarahnya masih bisa ditemukan di beberapa tempat hingga kini. Baik dalam bentuk catatan tertulis maupun bangunan. Ada Benteng Vredeburg yang menjadi salah satu saksi jejak Belanda di Jogja.

Pintu Masuk Benteng Vredeburg (c) Gallant Tsany A/Travelingyuk

Kota Gudeg memang termasuk salah satu kota yang sempat masuk wilayah kekuasaan Belanda di Indonesia. Maka tak mengejutkan jika memiliki sederet bangunan peninggalan kolonial, Benteng Vredeburg salah satunya. Bangunan kuno tersebut kini difungsikan sebagai museum dan jadi destinasi populer di Jogja.

Sejarah Berdirinya Benteng Vredeburg

Ruang VIP, sempat digunakan sebagai penjara bagi tawanan elit (c) Gallant Tsany A/Travelingyuk

Pendirian benteng di wilayah jajahan biasanya dilakukan karena alasan khusus. Benteng Vredeburg sendiri dibangun pada 1700 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono, berdasarkan permintaan seorang Gubernur Jendral Belanda.

Lantai dua benteng (c) Gallant Tsany A/Travelingyuk

Kala itu Sultan mengatakan pada rakyat bahwa benteng didirikan untuk menjaga keamanan keraton. Padahal maksud Belanda sebenarnya adalah ingin mengawasi lebih ketat pergerakan di dalam Kerajaan Jogja. Oleh karena itu lokasinya sengaja dipilih di titik nol Jogja, agar semua gerak-gerik bisa mudah diawasi.

Tak sekedar bangunan, benteng ini juga dilengkapi persenjataan khusus. Di bagian atas Belanda menyiapkan beberapa meriam. Daya luncurnya cukup dahsyat hingga bisa mencapai wilayah Keraton. Hal ini sejalan dengan rencana mereka untuk ‘menjaga’ Keraton dari segala akvititas mencurigakan.

Pusat Pengembangan Wilayah

Selain bertujuan mengawasi pergerakan Keraton, benteng dibangun di perempatan nol kilometer Jogja demi menjalankan Misi 3G (gold, glory, gospel). Lantaran tidak jauh dari Pasar Beringharjo, Belanda bisa dengan mudah mengontrol perekonomian. Hal ini didukung pembangunan kantor pos dan bank di dekat benteng.

Kantor pos tersebut kini digunakan sebagai Kantor Pos Besar Yogyakarta. Sementara bank peninggalan Belanda digunakan sebagai salah satu kantor Bank Indonesia.

Diorama di dalam Vredeburg (c) Gallant Tsany A/Travelingyuk

Sehubungan misi penyebaran agama dan kejayaan, Belanda membangun dua buah gereja sekaligus. Salah satunya berdiri persis di depan benteng dan kini menjadi GPIB Marga Mulya untuk umat Kristen. Sementara untuk umat Katolik ada Gereja Kidul Loji (selatan benteng), yang kini menjadi Gereja St Fransiskus Xaverius.

Benteng di Masa Kini

Ruang Diorama 4 (c) Gallant Tsany A/Travelingyuk

Setelah era Belanda berakhir, Benteng Vredeburg sempat diakuisisi Jepang. Namun hal itu tak berlangsung lama karena mereka akhirnya menyerah kalah di Perang Dunia II usai kejadian Bom Atom Hiroshima-Nagasaki.

Begitu era penjajahan berakhir, Vredeburg lantas mulai dikembangkan sebagai museum dan salah satu wisata Jogja yang menarik. Di sini pengunjung bisa mengenang sederet peristiwa penting yang terjadi pasca pembacaan naskah proklamasi di Jakarta.

Diorama berdirinya Muhamadiyah (c) Gallant Tsany A/Travelingyuk

Meski sudah beralih fungsi, bentuk asli benteng tidak banyak berubah. Pemerintah hanya melakukan sedikit pemugaran, cat ulang di sana-sini, agar kawasan ini tak terlihat kusam. Teman Traveler masih bisa menemukan ruangan yang dulunya digunakan sebagai kantin, gudang, dan penjara. Informasi mengenai hal ini bisa kalian baca di keterangan yang dicantumkan begitu jelas oleh pengelola di tiap sudut museum.

Luasnya area dalam benteng (c) Gallant Tsany A/Travelingyuk

Beberapa ruangan kini beralihfungsi menjadi ruangan diorama, menggambarkan sederet momen penting dalam perjuangan bangsa Indonesia. Sejumlah ruangan lain disulap menjadi ruang audio visual, tempat pengunjung menonton beberapa film.

Bagi yang ingin menginap, terdapat guest house khusus. Fasilitas ruang pertemuan juga tersedia di sini. Selain itu, menanggapi tren kuliner kekinian, pengelola Vredeburg mendirikan sebuah kantin dan kafe bernama Indische Koffie di dalam lingkungan benteng.

Orang tua juga bisa mengajak buah hati jalan-jalan ke sini. Selain bernuansa edukatif, destinasi ini juga menyediakan area bermain untuk anak-anak. Si kecil juga bisa merasakan asyiknya berkeliling sambil naik becak atau sepeda sewaan.

Itulah sedikit ulasan mengenai sejarah dan beberapa hal menarik yang bisa ditemui di Museum Benteng Vredeburg Jogja. Bagaimana Teman Traveler, ada yang tertarik melakukan wisata sejarah di tempat ini?