Wisata Benteng Ternate, Peninggalan Penjajah di Pusat Rempah

Ter­nate merupakan sebuah kota di wilayah Maluku Utara yang
berada di kaki Gunung Merapi Gamalama. Panorama di kawasan ini cukup indah, dengan sederet destinasi menarik yang bisa Teman Traveler kunjungi. Salah satunya adalah barisan Benteng Ternate. Tak hanya sarat kisah sejarah, benteng-benteng tersebut juga suguhkan gaya arsitektur unik. Yuk, simak ulasan lengkapnya.

Bukti Keberadaan Bangsa Asing

img_20190904_160434_2_P3D.jpg
Bagian depan Fort Oranje (c) Cynthia Aprilia/Travelingyuk

Ternate sempat jadi rebutan bangsa-bangsa Eropa lantaran statusnya sebagai penghasil rempah-rempah. Portugis tercatat mendarat di sini pertama kali pada 1512. Nah, membangun benteng merupakan salah satu upaya mereka untuk mempertahankan kekuasaan di Ternate dan dari serbuan dari bangsa asing lainnya.

Berbekal informasi ini, saya lantas menjelajah tiga benteng Ternate yang lumayan bersejarah. Dimulai dari Benteng Oren, Benteng Tolukko, dan berakhir di Benteng Kalamata.

Benteng Oren

img_20190904_1703315_Cn9.jpg
Benteng Oren (c) Cynthia Aprilia/Travelingyuk

Tempat yang juga dikenal dengan nama Fort Oranje ini terletak di Jalan Hasan Boesoeri, Gamalama. Ketika pertama dibangun Belanda pada 1607, benteng terbesar Ternate berada di pinggir laut. Namun akibat reklamasi pulau, lokasinya jadi sedikit menjorok ke dalam kota.

Menurut catatan sejarah, Belanda diperbolehkan membangun benteng ini usai berhasil membantu Sultan Ternate mengusir Spanyol. Bangunan ini sempat menjadi pemerintahan tertinggi Hindia Belanda di Ternate. Keberadaannya sekaligus menandai monopoli perdagangan rempah-rempah oleh VOC pada masa itu.

Tidak sulit untuk menemukan bangunan yang juga kerap disebut sebagai Benteng Melayu ini. Teman Traveler bisa naik kendaraan bermotor maupun transportasi daring. Masuknya pun gratis alias tidak ada tiket masuk.

Setelah melalui proses pemugaran, Benteng Oren kini sudah dilengkapi dengan taman dan barisan bangku untuk bersantai. Cocok sekali dijadikan alternatif wisata bersama kolega maupun keluarga.

Benteng Tolukko

img_20190904_1703316_osx.jpg
Bagian depan Benteng Tolukko (c) Cynthia Aprilia/Travelingyuk

Benteng buatan Portugis ini berada di daerah Sangaji Utara, Ternate Utara. Pendirinya adalah Fransisco Serrao dan proses pembangunannya diperkirakan rampung pada 1540. Tempat ini dulunya sebagai
pusat penyimpanan rempah-rempah karena lokasinya strategis.

Nama Tolukko sendiri memiliki kisah asal-usul yang menarik. Menurut versi pertama, sebutan tersebut terinspirasi dari nama salah seorang Sultan Ternate, Kaicil Tolukko, yang memerintah pada 1692. Sementara versi kedua menyebutkan bahwa nama tersebut diambil dari sebutan asli benteng ini, Santo Lucas. Lantaran warga Ternate sulit melafalkannya, nama tersebut lama kelamaan berubah menjadi Tolukko.

Buat Teman Traveler yang sedang liburan di Ternate, bisa dipastikan kalian akan melewati benteng ini ketika melakukan perjalanan dari Bandara Sultan Baabulah menuju pusat kota. Jika tertarik mampir, komplek wisata sejarah ini buka mulai pukul 08.00 hingga 17.00 setiap hari.

Benteng Kalamata

img_20190904_170331_nW4.jpg
Salah satu sudut Benteng Kalamata (c) Cynthia Aprilia/Travelingyuk

Benteng Kalamata berada di Kelurahan Kayu Merah, Ternate Selatan. Orang-orang juga kerap menjulukinya sebagai Benteng Kayu Merah.

Bangunan megah ini dibangun bangsa Portugis pada 1540 sebagai upaya mempertahankan diri dari Spanyol, yang kala itu menguasai Pulau Tidore. Benteng ini kemudian berpindah kekuasaan beberapa kali ke tangan Spanyol, Belanda, Kesultanan Tidore, hingga akhirnya benar-benar dikosongkan pada 1843.

Kalamata sempat tergenang air laut dan tak terawat hingga akhirnya pada 1989 Pemerintah Indonesia mulai melakukan proses renovasi. Bentuknya pun jadi tampak megah seperti sedia kala dan tetap kokoh berdiri hingga kini.

Bangunan bersejarah ini berjarak kurang lebih empat kilometer dari Benteng Oren. Dari bagian puncaknya, Teman Traveler bisa leluasa menikmati keindahan Pulau Maitara, Tidore, dan Gunung Gamalama. Keberadaan taman juga semakin menambah keindahan benteng yang mulanya bernama Santa Lucia ini. Nama Kalamata sendiri diambil dari Pangeran Kalamata, adik Sultan Ternate kala itu, Sultan Madarsyah.

Berkunjung ke sini, Teman Traveler tak perlu membayar tiket masuk. Kalian bisa langsung masuk dan menikmati keindahan sekitarnya.

Itulah sedikit ulasan mengenai benteng Ternate. Ternyata kota ini menyimpan lumayan banyak peninggalan sejarah menarik Teman Traveler. Jangan lupa mampir jika kalian sedang menjelajah wisata Ternate ya.

Tags
kontributor Ternate Travelingyuk wisata ternate
Share