Uniknya Barong Ider Bumi, Tradisi Tolak Bala Banyuwangi

Ariyanti Dwi Kumalasari

Ariyanti Dwi Kumalasari

On Indonesia
Topeng barong Topeng barong

Kemiren merupakan sebuah desa yang terletak di daerah Glagah. Desa ini menjadi perkampungan suku Osing, penduduk asli Banyuwangi. Dikenal sebagai salah satu kawasan cagar budaya, tiap tahunnya Kemiren selalu menggelar tradisi unik bernama Barong Ider Bumi.

Tradisi Barong Ider Bumi konon sudah begitu mendarah daging di dalam kehidupan suku Osing. Warisan budaya unik ini kabarnya telah berusia hingga ratusan tahun. Penasaran dengan kisah dan filosofi menarik di baliknya? Simak penuturan kontributor Travelingyuk, Ariyanti Dwi Kumalasari.

Filosofi di Balik Nama

Barong Ider Bumi
Barong Ider Bumi via Instagram badbudi

‘Barongan’ atau ‘Barong’ dalam mitologi Jawa dan Bali merupakan sosok makhluk berkaki empat atau dua dengan kepala singa. Bagi masyarakat yang menganut kepercayaan animisme, Barong dipercaya sebagai perwujudan nilai-nilai kebaikan dan keadilan. Ia juga merupakan figur yang senantiasa melawan kekuatan jahat yang dipimpin oleh perwujudan iblis bernama Rangda.

Sementara itu frasa ‘Ider Bumi’ dihasilkan dari dua kata yakni ‘Ider’ dan ‘Bumi’. Ider dalam bahasa Jawa berarti berkeliling, dan Bumi merupakan tempat berpijak. Ider Bumi bisa diartikan sebagai kegiatan mengelilingi tempat berpijak (bumi).

Sejarah Panjang Ritual Tolak Bala

Topeng barong
Topeng barong via Instagram barongfamilybanyuwangi

Sejarah tradisi Barong Ider Bumi berawal pada tahun 1840. Saat itu Desa Kemiren diserang wabah penyakit aneh yang mengakibatkan banyak warga meninggal. Banyak petani juga mengalami gagal panen.

Salah seorang sesepuh desa lantas meminta petunjuk kepada Mbah Buyut Cili, yang makamnya masih dirawat hingga kini. Pencerahan datang dalam wujud mimpi, di mana para warga diminta melakukan arak-arakan Barong sebagai bentuk tolak bala.

Tradisi tersebut lantas masih dilestarikan hingga saat ini. Selain menolak pengaruh negatif, Barong Ider Bumi juga terus dipertahankan untuk menjalin kerukunan antar warga.

Ritual Unik Penuh Makna

Barongan
Barongan via Instagram ticindonesia.id

Festival Barong Ider Bumi ini diawali ritual memainkan angklung oleh para sesepuh di balai desa setempat. Barong lantas diarak keliling desa sambil diiringi nyanyian Jawa, isinya doa kepada nenek moyang dan Tuhan untuk menolak bala dan memohon keselamatan.

Arak-arakan dimulai dari pusaran (gerbang masuk desa) menuju arah barat ke tempat mangku barong (pintu keluar desa) sejauh dua kilometer. Di sepanjang jalan, tokoh adat akan melakukan tradisi “Sembur Utik-utik” yakni kegiatan menebarkan uang logam, beras kuning, dan bunga sebagai simbol tolak bala.

Ketiga benda tersebut nantinya akan dibawa oleh rombongan tokoh adat dan para sesepuh di dalam sebuah “Bokor”. Uang logam yang dibawa harus tepat bernilai Rp 99.900 dan bunga yang digunakan jumlahnya juga harus ada 9. Angka 9 ini merujuk pada 99 Nama Allah (Asmaul Husna).

Waktu pelaksanaannya juga terbilang unik. Festival Barong Ider Bumi dilaksanakan setiap 2 Syawal dan dimulai pada pukul 2 siang (14.00 WIB). Pemilihan waktu pelaksanaan tersebut berkaitan dengan simbol ciptaan Tuhan yang berpasang-pasangan.

Diwarnai Tradisi Kuliner

Berebut pisang sesaji
Berebut pisang sesaji via Instagram dewinety

Begitu arak-arakan mencapai ujung desa, para warga akan berebut memakan pisang yang dipajang. Siapa yang berhasil konon bakal senantiasa diberi keselamatan dan kemudahan dalam hidup.

Tidak sampai disitu, ritual Barong Ider Bumi masih dilanjutkan kegiatan selamatan oleh warga setempat. Prosesi ini menggunakan Tumpeng Pecel Pitik, salah satu kuliner khas Banyuwangi. Selamatan sendiri merupakan suatu bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberkahan yang telah didapat.

Tahun ini, Festival Barong Ider Bumi akan diselenggarakan pada 16 Juni 2018. Bagi yang penasaran dan tertarik melihat langsung, pastikan jangan sampai kelewatan.