10 Reruntuhan Bangunan Kuno di Eropa yang Luput dari Radar Turis

Eropa kaya akan sejarah peradaban manusia yang spektakuler. Hal ini dapat dilihat dari peninggalan bangunan baik yang masih utuh terawat hingga sisa-sisa reruntuhan bangunan megah. Ini bukan hanya mencakup tentang penemuan bangunan bersejarah paling populer seperti Stonehenge yang ada di Inggris atau reruntuhan kota tua Parthenon di Yunani.

Untuk benar-benar menjelajahi reruntuhan sejarah yang ada di Eropa, kalian harus mengunjungi daerah-daerah terpencil untuk menyaksikan pemandangan luar biasa yang jarang dilihat orang lain. Berikut ini daftar reruntuhan bangunan kuno di Eropa yang masih jarang diketahui para turis.

1. Grasburg Castle, Swiss – Kastil Kuno di Swiss

Sebagian besar para wisatawan yang hobi berwisata sejarah di Eropa tidak pernah memasukkan Swiss ke dalam daftar kunjungan mereka. Dalam pikiran mereka hanya ada Italia, Yunani atau Inggris lah yang memiliki peradaban kuno. Namun sebenarnya anggapan mereka salah, sebab Swiss juga memiliki situs reruntuhan bangunan kuno yang layak dikunjungi dan sarat akan nilai sejarahnya.

Grasburg Castle, Swiss (c) myswistzerland
Grasburg Castle, Swiss (c) myswistzerland

Adalah Grasburg Castle, sebuah reruntuhan kastil kuno yang berada di Kotamadya Schwarzenburg, Kanton Bern, di Swiss. Reruntuhan kastil ini menjadi situs terbesar di Swiss dan masuk kedalam situs Warisan Nasional negara tersebut. Berdasarkan legenda, kastil ini dibangun oleh seorang pemburu dari Romawi yang mendapatkan hak kepemilikan lahan dari rusa yang ditolongnya dari ancaman naga ganas.

2. Kuil Segesta, Sisilia – Reruntuhan Kuno di Italia Khas Yunani

Sepintas bangunan kuno satu ini sangat mirip dengan Parthenon di Atena, Yunani. Bangunan tersebut bernama kuil Segesta yang beradadi sebelah barat laut pulau Sisilia, sekitar 75 kilometer dari Palermo. Reruntuhan ini sangat spektakuler karena masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik hingga kini.

Kuil Segesta, Sisilia (c) wanderingtrader
Kuil Segesta, Sisilia (c) wanderingtrader

Tidak adanya atap di reruntuhan bangunan ini bukan berarti bangunan tersebut runtuh karena terkikis waktu tetapi memang pembangunan yang dilakukan pada tahun 430 sebelum masehi itulah yang tidak pernah terselesaikan. Adapun bentuknya yang menyerupai Parthenon karena dahulu kala di daerah Segesta penduduknya adalah campuran antara Elymian dan Yunani Ionian. Sehingga itulah yang menyebabkan adanya percampuran budaya dan gaya arsitektur bangunannya.

Tags
Bangunan kuno Eropa traveling
Share