Melihat Proses Pembuatan Wayang Kulit di Bantul

Eksistensi wayang kulit sebagai warisan Indonesia telah diakui oleh UNESCO PBB sejak tanggal 7 November 2003. Pertunjukannya sendiri merupakan kekayaan budaya yang bernilai tinggi karena mampu menggabungkan berbagai macam unsur seni. Untuk melihat lebih dekat pembuatan wayang kulit, saya ajak Teman Traveler berkunjung ke Ukir Wayang Kulit SUPRIH yang terletak ke Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. 

Menuju lokasi

img_20190918_135814_01_grf.jpg
Lokasi galeri (c) Kurnia Pangestuti./Travelingyuk

Dari pusat kota Yogyakarta, Teman Traveler membutuhkan waktu sekitar 25 menit untuk berkedara menuju barat daya kota. Tidak sulit mencarinya. Galeri Ukir Wayang Suprih tepat berada di pinggir jalan raya.

Siang itu saya bertemu dengan Pak Suprih selaku pemilik galeri. Beliau sedang mengukir wayang yang masih setengah jadi. Karena bersaman  dengan jam istirahat siang, beliau meminta saya untuk kembali satu jam lagi.

Sejarah berdirinya

img_3611_01_RAu.jpg
Pak Suprih sedang menatah (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Pak Suprih menceritakan bahwa galeri ini telah berdiri sejak tahun 1974 diawali dari sebuah sanggar belajar. Seiring berkembangnya zaman, sanggar ini mulai menerima pesanan wayang kulit yang tidak hanya dipergunakan untuk pertunjukan, namun juga untuk souvenir dan hiasan dinding. Pesanan datang dari berbagai wilayah Indonesia bahkan sampai ke mancanegara. Ukir Wayang suprih pun menerima permintaan untuk  workshop dan seminar.

Proses Pembuatan

img_3616_01_RP7.jpg
Model wayang yang sudah dicetak (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Pembuatan selembar wayang memakan waktu cukup lama. Bahan baku pembuatannya adalah kulit kerbau yang didatangkan dari luar Jawa. Kulit kerbau dipilih karena mengandung lemak yang lebih sedikit dibandingkan dengan kulit sapi. Selain itu, kulit kerbau juga lebih tahan terhadap perubahan cuaca.

Kulit yang baru datang dalam keadaan kering direndam selama dua puluh empat jam agar lentur, lalu ditarik benang dan dikerok bulu bulu halusnya, kemudian diangin anginkan hingga kering. Untuk efisiensi waktu, sudah ada pekerja yang khusus mengerjakan bagian ini.

img_3621_01_g00.jpg
Motif raksasa pada gunungan (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Setelah kering, kulit tersebut mulai digambar polanya, kemudian ditatah. Lama proses natah ini tergantung pada ukuran, tokoh apa yang hendak dibuat, dan bagaimana motifnya nanti. Misalkan untuk membuat tokoh wayang Yudhistira, maka waktu yang diperlukan sekitar empat hari, baik itu Gagrak Surakarta maupun Gagrak Yogyakarta. Kalau untuk tokoh Punakawan, proses natah bisa selesai dalam waktu sehari. Tatah yang digunakan Pak Suprih terbuat dari baja murni dan dirancang sendiri oleh beliau. 

Ada yang unik di galeri ukir Suprih

img_3618_01_5ut.jpg
Alat untuk menatah (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Tak hanya menerima pesanan, galeri ini juga menerima layanan servis wayang, misalkan ada wayang yang kulitnya retak atau tangannya patah. Faktanya, servis wayang jauh lebih sulit dibandingkan dengan membuat wayang dari awal.

Wayang yang diproduksi di sini adalah wayang pesanan,sebab setiap dalang atau orang yang memesan memiliki selera ukir atau wayang yang berbeda-beda. Pembuatan wayangpun juga menekankan pada unsur selera pemesannya.

Setelah selesai mengukir, tahap pembuatan wayang kulit selanjutnya adalah nyungging yaitu memberikan warna pada wayang. Kebetulan pada hari itu, Pak Suprih sedang tidak melakukan proses nyungging, maka beliau meminta saya untuk berkunjung ke tempat Pak Paimin yang tidak jauh dari galeri.

Tahap terakhir adalah nggapit yaitu memberi pegangan pada wayang. Pegangan ini terbuat dari tandak kerbau. Tanduk kerbau dipilih sebab memiliki tekstur yang padat, tidak keropos dan mudah di luk/dibengkokkan.  

Menuju rumah Pak Paimin

img_3633_01_NW6.jpg
Pak Paimin sedang nyungging (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Pak Paimin saat ini sudah berusia 75 tahun. Namun, tangannya masih sangat lincah menggerakkan kuas. Warna demi warna ditorehkan di wayang yang sedang diwarna. Dalam menyelesaikan pesanan, Pak Paimin dibantu oleh anaknya. 

Pewarnaan dilakukan dengan menggunakan cat kayu. Sama halnya dengan proses natah, proses nyungging memerlukan waktu sekitar tiga hingga empat hari, tergantung pada ukuran wayang dan tokoh siapa yang dibuatnya. 

Bila proses nyungging telah selesai, maka wayang siap untuk digapit. Namun sayangnya hari itu pak Paiminpun sedang tidak melakukan proses nggapit

Harga wayang

img_3613_01_MaA.jpg
Salah satu motif ukiran (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Harga tiap wayang berbeda beda sesuai ukuran dan tingkat kesulitannya. Hal yang memengaruhi harga juga tingkat prodo/hiasan kelap-kelip yang digunakan Jika menggunakan prodo emas, harga wayang akan jauh lebih tinggi. Semakin rumit ukirannya, semakin mahal harganya.

Pak Suprih menjelaskan, harga terendah sebuah wayang adalah enam ratus ribu rupiah, sedang harga tertingginya bisa mencapai jutaan rupiah. Sedangkan untuk harga nyungging wayang, Pak Paimin menjelaskan harganya mulai tiga ratus ribu rupiah hingga satu juta rupiah.

Dampak Dari Ukiran Wayang 

img_3623_01_cgN.jpg
Wayang untuk souvenir (c) Kurnia Pangestuti/Travelingyuk

Pak Suprih dan Pak Paimin adalah dua seniman dari puluhan seniman pembuat wayang lainnya di desa Bangunjiwo. Karena begitu banyak seniman pembuat wayang di sini, banyak anak mereka yang diberikan nama seperti nama tokoh wayang, seperti Arjuna, Wisanggeni, dan masih banyak lagi. Unik sekali ya!

Selain itu, desa ini juga sering mengadakan audisi dalang cilik untuk mencari bibit dalang-dalang andal. Semoga upaya ini membuahkan hasil yang manis agar kebudayaan Jawa yang tak ternilai ini semakin dikenal hingga generasi mendatang.

Demikian ulasan singkat tentang proses pembuatan wayang kulit di Bantul, Yogyakarta. Semoga menginspirasi para pembaca, dan selamat traveling! 

Tags
Bantul Budaya Indonesia pembuatan wayang kulit wayang kulit Yogyakarta
Share