Melihat Aleppo, Pusatnya Wisata di Suriah Sebelum Hancur karena Perang

Aleppo menjadi sorotan karena peperangan, sekelumit konflik di Suriah ternyata berujung pada kiriman bom hingga membuat sudut di Suriah yang dulu indah itu porak-poranda. Hingga saat ini perseteruan di kota terbesar kedua di Suriah itu masih belum berakhir, peringatan kunjungan wisata pun diberlakukan oleh berbagai negara karena memang keselamatan itu lebih penting. Aleppo bukan tempat yang sembarangan, jika melihat beberapa lokasi berikut ini, tentu kekaguman yang akan kamu rasakan.

Bangunan yang bernilai sejarah berdiri di mana-mana. Jika mengusut ke masa beberapa tahun silam, kota strategis itu telah ditaklukkan oleh beberapa bangsa besar seperti Hitit (2000 SM), Mesir dan Asiria (abad ke-8 SM), Persia (abad ke-6 SM), Macedonia (332 SM), Romawi (64 SM), Arab (635 M), Tatar (1260), Mongol (1398), Kesultanan Utsmaniyah (1517 M), dan Perancis (1920 M). Berikut ini adalah wajah Aleppo sebelum perang dilancarkan oleh Pemerintah Suriah di bawah kendali Basyar al Assad.

1. Benteng Aleppo

Sebagai tempat yang strategis, Aleppo pernah berjaya di masa silam, menarik para penguasa di sekitarnya untuk menancapkan kekuasaan di sepanjang wilayahnya. Jejak sejarahnya bisa kita lihat dari Benteng Aleppo atau Citadel of Aleppo, sebuah bangunan yang menjadi saingan Benteng Kairo dan Benteng Damaskus. Kompleks besar lagi megah di bagian utara Suriah itu berbentuk oval serta berada di atas bukit. Jika diukur dari lereng bukit, tingginya mencapai 50 meter.

Benteng Aleppo [image source]
Terdapat parit yang dulu difungsikan untuk menghalau para penyusup dengan kedalaman 22 meter dan lebar 30 meter. Awalnya tidak seperti sekarang ini, baru di bawah kekuasaan Sultan Al-Zahir Al-Ghazi (1186-1216) dari Dinasti Ayyubiyah, pembangunan besar-besaran dilakukan. Bahkan dibangun pula sebuah masjid besar di titik tertinggi Benteng Aleppo. Rekonstruksi juga terus dilakukan semasa penguasa berikutnya. Di masa modern, Benteng Aleppo sering dijadikan tempat festival dan konser dengan memanfaatkan bagian amfiteaternya.

2. Masjid Agung Aleppo

Masjid terbesar di Aleppo ini juga menyimpan nilai sejarah yang berharga. Bangunannya telah berumur panjang ribuan tahun dan selama itu pula menjadi saksi sejarah hingga tahun 2013 silam menjadi korban Perang Saudara di Suriah. Menara Masjid yang memiliki ketinggian sekitar 45 meter dan berwarna merah jambu muda runtuh akibat perang. Baik pihak pemerintah Suriah maupun pemberontak saling menyalahkan.

Masjid Agung Aleppo [image source]
Jika dilihat, arsitekturnya menyerupai Masjid Damaskus karena memang masa pembangunannya hampir bersamaan. Bentuk yang sekarang, adalah hasil rekonstruksi pada masa Nur ad Din sekitar tahun 1158. Sebelumnya, masjid ini telah berkali-kali diserang dan dihancurkan.

3. Bab Antakiya

Bab Antakiya atau sebutan lainnya adalah Gerbang Antiokhia adalah sebuah bangunan pertahanan yang menjadi salah satu warisan sejarah dan budaya di Aleppo. Nasibnya sama seperti menara Masjid Agung Aleppo, hancur karena perang tanpa ampun. Di masa lampau, Gerbang Antikiya berfungsi melindungi Aleppo jika ada serangan dari arah Barat.

Bab Antakiya [image source]
Di sebut begitu, karena gerbang itu mengarah ke Antiokhia, Ibu kota Suriah Kuno. Karena keberadaannya sangat penting, maka para penguasa Aleppo melakukan pembangunan dan perbaikan berkala. Dua menara ditambahkan pada masa Ayyubiyah.

4. Matbakh al-‘Ajami

Matbakh al-‘Ajami [image source]
Matbakh al-‘Ajami terletak 150 meter dari Benteng Aleppo menghubungkannya dengan Masjid Agung. Diperkirakan bangunan ini awalnya adalah istana pada masa Ayyubiyah dan berdiri sekitar abad ke-12. Arsitekturnya bergaya Mamluk, dengan detail keindahan di berbagai sudutnya. Menurut catatan dibangun oleh Zengid emir Majd ad-Din bin ad-Daya. Renovasi kembali dilakukan pada abad ke-15 hingga dijadikan sebagai museum pada masa sekarang.

Itulah beberapa peninggalan bersejarah di Aleppo, tentu keadaannya kini sangat memprihatinkan bahkan terancam mengalami kehancuran yang lebih parah lagi. Berbagai pihak turut menyuarakan peringatan, termasuk juga UNESCO.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *